Mensiasati Barang Kebutuhan Anak dan Bayi

Jauh sebelum punya anak dan hamil, Aku sangat kepikiran tentang biaya-biaya yang akan timbul kalo punya anak nanti. Dari mulai dot bayi, tempat tidur, mainan, teether, popok, makanan, belum lagi baju dan aksesoris nya yang macem-macem. Mikirin barang-barang kebutuhan anak pokoknya udah “parno” duluan mikirin perintilan yang harus dibeli.

Seiring berjalannya waktu, saat hamil akhirnya bisa “menerima keadaan” dengan mencicil perlengkapan bayi satu per satu. Saat udah melahirkan pun juga begitu, apalagi anak pertama, dari yang tadinya mau hemat eh akhirnya kadang-kadang nggak tahan juga untuk spend. LOL.

Alhasil setelah baby ku berumur sekitar 4 bulan, baru keliatan deh banyak barang-barang bayi yang numpuk, dimana nggak semuanya aku yang beli, tetapi kadang dikasih/kado. Somehow, kado yang diberikan terkadang banyak yang sama ataupun kita sudah beli sebelumnya. Contohnya: baby bather, bouncer, handuk bayi, sterilizer (hayo ngaku pasti banyak deh yang dapet kado barang barang ini). Sayang banget nggak kepake, kalo dikasih lagi ke orang kadang pun orang tersebut udah punya.

Keadaan ini disusul juga dengan kebutuhan anak aku yang mulai macem-macem, dimana terkadang aku sempat bingung untuk budgeting keperluan dia. ☹

barang kebutuhan bayi dan anak

Banyaknya kebutuhan bayi membuat orang tua harus mensiasati dengan cara cermat. Salah satu cara yang efektif adalah menjual kembali barang tersebut ataupun membeli barang pre-loved yang berkualitas baik. Yang terpenting adalah mengetahui apa saja kebutuhana anak yang memang harus disediakan sesuai dengan usianya.

Akhirnya, berdasarkan pengalaman, hal yang paling tepat untuk dilakukan adalah menjual barang-barang yang belum/tidak terpakai tersebut. ☺ Pertama kali aku coba, aku ikutan bazaar garage sale yang diadakan oleh Circle of Moms (IG: @circleofmoms_id) a start up preloved mother and baby stuff business sekitar bulan April 2014. Aku kumpulin barang-barang yang kira-kira dapat terjual dari mulai baju, sepatu, mainan, baby bather, wahhh.. you name it! Segala yang bisa ku jual pun aku jual.
Alhamdulillah, dari jualan barang-barang yang mayoritas baju newborn sampai dengan 3 bulan aja aku udah dapet penghasilan sekitar Rp 1.800.000,. buat aku udah lumayan banget☺ karena uang tersebut bisa aku pake lagi untuk membeli keperluan Saladdin lainnya yang saat itu dia butuhin (butuh untuk beli peralatan makan, karena waktu itu udah mau MPASI).

barang keperluan bayi dan anak

Kids Flea Market Singapore. Karena sudah sering ikutan flea market baby stuffs, jadinya kalau ke luar negeri pun selalu semangat dateng ke flea market 🙂

Dari pengalaman diatas, ada beberapa lesson learned yang didapat, dari mulai bagaimana cara supaya barang kita dapat cepat terjual lagi maupun pelajaran tentang memilih barang-barang kebutuhan ibu-bayi yang sesuai dan cocok. Beberapa diantaranya adalah:

1. Simpan dan jaga kondisi barang dengan baik. Penting banget untuk menjaga kondisi barang bayi sebisa mungkin seperti baru (walaupun susah). Simpan packaging aslinya (dus, plastik pengemasnya, dll) dan juga kelengkapan barang tersebut seperti buku manual. Saat mau dijual, bungkus barang tersebut se-rapih mungkin agar menambah nilai jual barang.
2. Don’t be afraid to invest. Awalnya aku agak mikir kalau mau beli barang bayi, terutama baju bayi yang lumayan “branded” karena harganya agak tinggi walaupun jelas kualitasnya dan modelnya bagus. Apalagi karena pasti barang tersebut tidak akan dipakai lama oleh anak. Tapi semenjak ada sarana untuk menjual barang-barang ini, aku pede aja untuk beli barang tersebut dengan asumsi bisa dijual lagi. Karena berdasarkan pengalaman, barang-barang dengan kualitas baik tersebut Alhamdulillah pun cepat laku.
3. Selalu update dengan acara-acara garage sale bayi yg terpercaya. Biasanya acara garage sale yang udah terpercaya dan lumayan bisa datengin banyak customer (seperti circle of moms hehe) punya slot yang terbatas jadi kadang harus cepet-cepetan daftar (termasuk owner, hehe) kalau nggak biasanya udah penuh jadi gak kebagian tempat 🙁

Adapun beberapa teman yang mikir daripada dijual lagi mending barang-barangnya disumbangkan ke panti asuhan misalnya, berubah pikiran. Mereka akhirnya jual barang mereka, dimana hasil penjualannya tetap disumbangkan ke panti asuhan. Sehingga lebih efektif karena tepat beri dan tepat sasaran, karena terkadang kalau langsung memberi barang yang tidak digunakan, somehow orang yang dikasih tidak benar-benar membutuhkan barang tersebut.

Jujur aja, prinsip menjual kembali barang yang sudah tidak/belum terpakai dan menggunakan hasil penjualannya untuk membeli kebutuhan yang memang kita butuhkan ini sangat membantu sekali untuk aku mensiasati motherhood/household demands. Istilahnya, kita “muterin uang”, pas sekiranya sudah puas memakai barang tersebut, akhirnya bisa dijual lagi, sekaligus biar nggak mubazir (dosa) hehe.. Sebenarnya pun selain menjual kembali, beberapa cara lainnya bisa juga dengan meminjam ataupun menyewa. Well, will talk about it later for sure. Let’s outsmart the motherhood demands together! Semoga berguna 🙂